Planet bumi sedang mengalami perubahan besar. Perubahan besar yang pastinya bakal mengancam keberadaan 6,5 milyar penduduk di muka bumi.
Ya, istilah global warming (pemanasan global) rasanya menjadi makin populer sejak tahun 2003-an. Saat itu, sebagian besar pemerintah negara di dunia begitu terperangah oleh hasil penelitian NASA yang menunjukkan ternyata ada sekitar dua triliun ton es di kutub utara dan selatan yang mencair. Dampaknya bisa ditebak. Permukaan laut di seluruh dunia diperkirakan akan terus naik.
Belum lagi jika melihat fenomena bencana alam yang marak terjadi di dunia. Sebut saja rentetan gempa bumi di Indonesia sejak 2004 di Aceh, Sumatera Utara, DI Yogyakarta, Tasikmalaya dan terakhir Sumatera Barat. Lalu ada banjir dahsyat akibat badai tropis Ketsana di negara Filipina dan Cina pada September 2009. atau perubahan cuaca di berbagai wilayah yang ekstrim, angin topan, meluapnya air laut (rob) ke pemukiman dan sebagainya. Semua itu mengisyaratkan kalau bumi sedang mengalami ”kontraksi” akibat ulah umat manusia itu sendiri.
Dalam teori penciptaan alam semesta Big Bang, sejatinya sudah diketahui. Pada akhirnya bumi akan mengalami penyusutan. Setelah mengalami proses ledakan dahsyat dari satu materi, kemudian berkembang hingga akhirnya alam semesta dan bumi ini akan menyusut. Tapi tak usah sampai teori Big Bang terbukti, lkehancuran planet bumi dan alam semesta bisa jadi bakal terjadi lebih cepat. Pasalnya, kepunahan peradaban manusia bisa lekas terwujud tatkala manusia semakin mengingkari kodratnya untuk ikut menjaga alam dan lingkungannya.
Desakan era industrialisasi, keserakahan para pemimpin negara, penebangan hutan, hingga budaya boros energi di berbagai negara menjadi pemicu meningkatnya gas karbon dioksida, menipisnya lapisan ozon, efek gas rumah kaca dan polusi udara. Hasil studi para peneliti iklim dari berbagai dunia telah menasbihkan kalau suhu bumi melonjak 3 derajat celcius sejak tahun 1900-an. Kenaikan yang cukup mengkuatirkan jika melihat suhu rata-rata bumi yang ternyata sudah sekitar 30 derajat celcius di berbagai wilayah. Itulah sekilas gambaran ancaman global warming.
Pertanyaannya pentingkah bagi kita untuk memikirkan fenomena global warming ?
Jawabnya memang terserah kita. Yang jelas kebijakan berbagai pemerintah negara di dunia seakan sudah mengkerucut pada satu ”bahasa”. Tak puas menelurkan deklarasi protokol Kyoto, bila tak ada aral melintang, sebagian besar pemerintah negara di dunia akan ikut dalam Dekalarasi Copenhagen yang akan dirancang Desember 2009 nanti. Jika Deklarasi Copenhagen telah ditandatangani, dipastikan semua pemerintah di dunia akan menekan dampak emisi gas rumah kaca dan polusi CO2 dari sektor industrinya.
Bahasa yang tidak sederhana dan tidak mudah. Tapi kalau bukan dari sekarang dan oleh kita, siapa lagi yang akan menyelamatkan bumi kita tercinta ini ?
Divera Wicaksono, TWNC (2009)
Copyright © 2009. All right reserved.
