Walau terpisah jarak dan lautan ribuan kilometer, subspesies harimau Sumatera (panthera tigris Sumatrae) dan harimau Siberia (panthera tigris altaica) ternyata mempunyai nasib yang tak jauh beda. Keduanya sama-sama diambang kepunahan.
Harimau Siberia yang banyak ditemukan di tenggara Rusia, Semenanjung Korea, barat laut Mongolia dan barat laut Tiongkok ternyata banyak menjadi incaran para pemburu gelap untuk dijadikan souvenir eksotis. Gigi, kumis, cakar, tulang, dan kulit harimau maupun anak harimau Siberia sangat laris terjual meski harganya sangat mahal. Selain itu menyusutnya luas hutan sehingga berkurangnya hewan mangsa membuat si raja hutan ini menjadi kian terancam hidupnya.
Untuk menghentikan penyusutan jumlahnya, pemerintah Rusia memelihara suaka margasatwa yang luas, seperti Cagar Alam Sikhote Alin. Berdasarkan survei yang dilakukan di 2005, jumlah harimau Siberia yang hidup kini semakin terjaga yaitu lebih dari 500 ekor. Dalam upaya melestarikan subspesies warisan dunia, pemerintah Rusia lebih memilih ”mengandangkan” harimau Siberia dalam area kebun binatang yang besar. Hal ini untuk menghindari dari ancaman pemburu liar yang kerap mengintai.
Berbeda dengan upaya pelestarian harimau Sumatera oleh Artha Graha Peduli di Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) yang cenderung melepasliarkan di alam bebas. Aksi pelepasliaran harimau ke alam bebas memang tidak banyak dilakukan di berbagai negara khususnya yang memiliki satwa harimau diwilayahnya. Jika tidak ada aral melintang, pihak TWNC diundang dalam pertemuan pelestarian harimau di dunia di Rusia bulan Oktober 2010 mendatang.
Peluncuran Kamus Rusia - Indonesia
Tidak hanya ke harimau Siberia, pemerintah Rusia juga peduli terhadap pelestarian budaya khususnya bahasa Rusia di Indonesia. Pusat Kajian Eropa Universitas Indonesia, Universitas Negeri Moskow dan Universitas St. Petersbug di Rusia telah meluncurkan Kamus Rusia – Indonesia yang berisi 80 ribu kata.
Disponsori Artha Graha Peduli, kamus ini diterbitkan mengingat begitu banyaknya perubahan yang terjadi di Rusia dan kebutuhan yang mendesak bagi penutur bahasa Indonesia yang ingin membaca dan berkomunikasi dengan bahasa Rusia. Dalam kamus yang ditulis oleh Ludmila Nikolaevna (asisten profesor Institut Studi Asia-Afrika Universitas Negeri Lomonosov Moskow), Igor Ilyich, penerjeman dan penyiar radio Moskow Indonesia dan kawan-kawan banyak memuat kata-kata terbaru yang disesuaikan dengan perubahan di Rusia baik itu di bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya.
Tepat memperingati 60 tahun hubungan Indonesia dan Rusia, awal Februari (1/2) yang lalu diluncurkanlah Kamus Rusia - Indonesia di Hotel Borobudur Jakarta. Dalam acara tersebut juga dihadiri oleh Rahmat Witular, Mantan Menteri Lingkungan Hidup dan Manta Duta Besar Indonesia di Rusia, Alexander Ivanov, Duta Besar Rusia Untuk Indonesia dan Jenny Hardjono, Guru Besar UI Bidang Rusia. (DW)
Copyright © 2009. All right reserved.
