Meski termasuk binatang langka yang dilindungi pemerintah dan berbagai organisasi pecinta binatang dunia, bukan berarti kehidupan harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae) di pelosok hutan pulau Sumatera terbebas dari ancaman. Mahalnya harga jual bagian tubuh harimau membuat para pemburu ilegal tak jera mengincar si raja hutan ini.
Berapa sebenarnya harga jual tubuh harimau Sumatera ?
Kalau dihitung, ternyata bisa lebih dari 30 ribu US $ atau kalau dirupiahkan menjadi sekitar Rp 360 juta. Jika ditukar dengan mobil baru, jumlah itu cukup untuk membeli dua unit Honda New Jazz keluaran tahun 2008! Harga itu bisa naik berlipat-lipat, tergantung ketersediaan tubuh harimau di pasaran.
Begitulah kira-kira taksiran total harga menurut organisasi Big Cat Rescue, sebuah organisasi pelestarian hewan asal Amerika Serikat. Umumnya, tubuh harimau dijual dalam bentuk serbuk (ekstrak) obat penyakit, menjaga kesehatan, suplemen vitalitas atau manfaat lainnya. Ekstrak tubuh harimau ini bisa kita peroleh di toko-toko obat tradisional yang tersebar di beberapa kota besar di pulau Sumatera khususnya atau bahkan sampai ke mancanegara seperti negara Cina dan Korea.
Bagian tubuh harimau yang paling laku dan banyak diperjualbelikan diantaranya: tulang, kulit, gigi taring, kumis, dan alat kelamin (penis). Bubuk ekstrak tulang harimau misalnya, jika dihidangkan atau dicampur dalam sup, dipercayai bisa menyembuhkan berbagai penyakit tulang seperti rematik dan ancaman pengeroposan. Serbuk penis harimau yang dicampur minuman wine juga berguna untuk meningkatkan vitalitas seksual. Bahkan, jubah yang terbuat dari kulit harimau dimitoskan berguna untuk menangkis serangan mistik dan menambah kesaktian bagi siapa yang memilikinya.
TABEL HARGA JUAL PER ANGGOTA TUBUH HARIMAU SUMATERA
Canine Teeth : US $ 125 per canine
Claw : US $ 14 per claw
Skin Pieces : US $ 900
Bone : US $ 400 per kilogram of bones
(1 tiger consist of about 12 - 18 kg of bones, total US $ 4.800 – 7.200)
Penis : US $ 800
Sumber : Big Cat Rescue (www.bigcatrescue.com)
Sayangnya, kehebatan dan khasiat berbagai anggota tubuh harimau inilah yang akhirnya membuat jumlah populasi harimau Sumatera terus menyusut. Berdasarkan pemantauan organisasi dunia World Wild Fund (WWF), saat ini total populasi harimau Sumatera di Indonesia tak lebih dari 300 ekor. Jumlah ini jauh berbeda ketika pada tahun 1990 yang ditaksir masih berjumlah 800 ekor. Selain terus terdesak karena diburu manusia, populasi harimau berkurang karena banyak hutan yang berubah menjadi perkebunan, pratek ilegal logging (penebangan liar) dan kebakaran hutan.
Kondisi harimau Sumatera yang terancam punah tersebut yang kemudian memancing perhatian dan kepedulian dari sebuah grup bisnis nasional yang tergabung dalam Artha Graha Network. Selain memahami pentingnya melindungi spesies harimau Sumatera yang termasuk ”warisan pusaka” dunia, kebetulan Artha Graha Network memang memiliki hak pengelolaan hutan di Tampang Belimbing (Tambling) di Kabupaten Lampung Barat sejak tahun 2003 silam.
Tambling adalah kawasan hutan seluas 100 ribu hektar yang termasuk ke dalam bagian wilayah hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Melalui bendera Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) yang didukung oleh Artha Graha Peduli (AGP), kawasan hutan Tambling kini tidak hanya menjadi kawasan hutan lindung, melainkan menjadi hutan khusus konservasi flora dan fauna.
Salah satu bukti kegiatan konservasi yang sudah dilakukan AGP dan TWNC adalah ketika berhasil merelokasi dan melepas-liarkan tiga ekor harimau Sumatera asal Aceh di kawasan hutan Tambling pada pertengahan Juli 2008 lalu. Kala itu, AGP tergerak membantu tatkala mendengar informasi ada tiga ekor harimau yang ”terdesak” hidupnya karena habitatnya di kawasan hutan Leuser yang gundul dan ancaman pemburuan oleh masyarakat setempat.
”Melepas-liarkan harimau Sumatera di Tambling adalah bagian dari upaya melestarikan harimau Sumatera yang terancam punah,” kata Hana Lilies, Assistan Vice President Bank Artha Graha sekaligus menjadi koordinator corporate social responsibilities dari Bank Artha Graha. Kedepan, tambah Hana Lilies, Tambling juga akan menjadi pusat budidaya (breeding) harimau Sumatera agar bisa terus berkembang biak. (DW/OI)
Copyright © 2009. All right reserved.
